Asal-Usul Sabung Ayam Yang di Nusantara Bukan Sekadar Permainan Semata
- ayam sate

- Sep 28, 2018
- 3 min read
Beradu Ayam Jago atau biasa dimaksud dengan Sabung Ayam Bangkok Petarung atau ayam aduan adalah permainan yang sudah dijalankan masyrakat di kepulauan Nusantara sejak mulai waktu lampau. Permainan ini adalah perkelahian ayam Jago yang miliki taji serta terkadan taji ayam jago ditambahkan dan dibikin dari logam yang runcing.
Permainan sabung ayam di Nusantara nyata-nyatanya tidak cuma satu permainan hiburan semata-mata buat masyarkat, tapi adalah satu narasi kehidupan baik sosial, budaya ataupun politik. Permainan Sabung Ayam di pulau Jawa berawsal dari folklore (Narasi Rakyat) Cindelaras yang miliki ayam sakti serta diundang oleh raja Jenggala, Raden Putran buat mengadu ayam.
Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu prasyarat, bila ayam Cindelaras kalah karena itu ia bersedia kepalanya nya di pacung. Tapi bila ayam nya menang karena itu 1/2 kekayaan Raden Putra jadi punya Cindelaras. Dua ekor ayam itu bertaurng dengan gagah serta berani. Tapi kurun waktu singkat, ayam cindelaras sukses menaklukan ayam sang Raja.
Banyak pemirsa bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras serta ayamnya. Selanjutnya Raja mengaku kedahsyatan ayam Cindelaras serta jelas kalau Cindelaras gak lainnya yaitu putranya sendiri yang lahir permaisurinya yang terbuang karena iri dengki sang selir.
Sabung ayam juga jadi satu moment politik semasa lampau. Cerita kematian Prabu Anusapati dari Singosari yang terbunuh kala lihat sabung ayam. Kematian Prabu Anusapati berlangsung di hari Buddha Manis atau Rabu Legi saat di kerajaan Singosari tengah berjalan keramaan di Istana Kerajaan satu diantaranya yaitu pertunjukan Sabung Ayam.
Aturan yang laku yaitu siapa-siapa saja yang dapat masuk dalam ajang sabung ayam dilarang membawa senjata atau keris. Sebelum Anusapati pergi ke Sabung Ayam. Ken Dedes ibu Anusapati memberikan nasehat anaknya supaya janganlah melepas keris pusaka yang sudah dipakainya bila mau lihat sabung ayam diadakan di Istana, tapi sejenak sabung ayam belumlah dijalankan Anusapati melepasakan keris nya atas tekanan Pranajaya serta Tohjaya.
Saat itu diarena berlangsung kericuhan serta selanjutnya moment yang dicemaskan Ken Dedes terjai di mana kericuhan itu merengut nyawa Anusapati yang tergeletak mati diarena sabung ayam dibunuh adiknya Tohjaya yang ditusuk dengan keris pusakanya sendiri.
Lantas Jenazah Anusapati dikebumikan di Candi Penatran serta peristiwa itu masih dikenang orang, Anusapati yaitu kakak dari Tohjaya dengan ibu Ken Dedes serta Papa Tunggul Ametung dan Tohjaya yaitu anak dari Ken Arok dengan Ken Umang itu memang diriwayatkan miliki hoby menyabung ayam.
Memang dalam narasi rakyat khususnya Ciung Wanara berkisah kalau keberuntungan serta pergantian nasib seorang ditetapkan oleh kalah menangnya ayam diarena sabung ayam, begitu pula Anusapati bukan kalah dalam beradu ayam tapi dalam permainan ini ia terbunuh.
Dan di Bali permainan sabung ayam dimaksud dengan Tajen. Tajen berasal-usul dari tabuh rah, salah satunya yadnya (Upacara) dalam masyrakat Hindu di Bali. Arahnya mulia, ialah mengharmoniskan pertalian manusia dengan bhuana agung, Yadnya ini runtuhan dari upacara yang sarananya memakai binatang kurban, seperti ayam, babi, itik, kerbau, serta bermacam style hewan peliharaan lainnya.
Persembahan itu dijalankan melalui langkah nyambleh (leher kurban dipotong sehabis dimanterai. Awal kalinya juga dijalankan ngider serta perang sata dengan peralatan kemiri, telur, serta kelapa. Perang sata yaitu pertempuran ayam dalam serangkaian kurban suci yang dikerjakan tiga partai (telung perahatan), yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan, serta pemushan dunia. Perang sata adalah ikon perjuangan hidup.
Etika ini udah lama ada, bahkan juga sejak masa Majapahit. Kala itu pakai arti menetak gulu ayam. Selanjutnya tabuh rah merembet ke bali yang diawali dari pelarian beberapa orang majapahit, lebih kurang tahun 1200.
mirip dengan bermacam kesibukan lainnya yang dijalankan masyrakat bali dalam menekuni ritual, terutamanya yang terkait dengan penguasa jagad, tabuj rah miliki patokan yang bergantung pada basic sastra.
Tabuh rah yang kerapkali diadakan dalam serangkaian upacara Butha Yadnya juga banyak dimaksud dalam bermacam lontar. Semisalnya, dalam lontar siwa tatawapurana yang di antaranya menuturkan, dalam tilem kesanga (kala bulan betul-betul tdk kelihatan pada bulan ke-9 penanggalan bali).
Bathara Siwa membuat yoga, kala itu kwajiban manusia dibumi memberikan persembahan, lantas diselenggarakan pertempuran ayam serta dikerjakan Nyepi satu hari. Yang dikasih kurban yaitu sang Dasa Masa Bumi.
Buat Informasi Lebih Lanjut Silakan Hubungi ;
Wechat : Bolavita
WA : +6281377055002
Line : cs_bolavita
BBM PIN : BOLAVITA (Huruf Semua) http://sabungayam.life/
Comments